Kembang Kertas (Ijinkan Aku Menjadi Lesbian)

Kembang Kertas (Ijinkan Aku Menjadi Lesbian)➹ [Download] ➵ Kembang Kertas (Ijinkan Aku Menjadi Lesbian) By Eni Martini ➼ – Oaklandjobs.co.uk Novel Kembang Kertas tak terlalu sulit untuk dibaca dan dicerna Alurnya sederhana dengan bahasa dan kata kata sederhana sehingga dapat dibaca dengan cepat Kelemahannya yang mencolok adalah pada burukn Novel Kembang Kertas tak terlalu sulit untuk dibaca dan dicerna Alurnya sederhana dengan bahasa dan kata kata sederhana sehingga dapat dibaca dengan cepat Kelemahannya yang mencolok adalah pada buruknya pengeditan Masih banyak kata kata yang ditulis dengan huruf yang salah Di samping itu, penggunaan subyek dan predikatnya dalam kalimat kadang mengganggu dan tidak mengenakkan selera membaca Pada alinea pertama, halaman , pembaca dapat melihat kalimat yang berantakan tak tersusun dengan baik Misalnya Sudah lama Kartini tidak berbaur dengan keluarga, famili dan teman temannya dalam suasana pesta adat Jawa yang penuh ungah ungguh, tata krama seharusnya Unggah Kalimatnya selanjutnya begitu jelek seperti tak mengenal hukum subyek dan predikat dengan baik Maka saat Si Bu mengadakan pesta kecil kecilan, atau lebih sering disebut selamatan oleh masyarakat Jawa Pesta dalam rangka menyambut kedatangannya dari Boston, serta syukuran atas selesainya studi dia Kartini cukup antusias menyambutnya, karena selain akan bertemu dengan orang orang yang dicintai Ada pesta, pasti ada kue tradisional aneka ragam Serabi, nogosari, cenil, lemper, klepon, dan kue kue jajan pasar lainnya. Fatalisme Kartini Kembang KertasAJ SusmanaTema lesbian atau baca juga homoseksualitas dalam Sastra Indonesia kekinian tentu gampang dijumpai Entah itu dalam novel, cerpen, puisi bahkan juga film Linda Christanty misalnya, memajukan Tina, dalam cerpen Lubang Hitam, dalam antologi cerpen Kuda Terbang Maria Pinto, Kata Kita, 2004 43 56 yang juga menikmati dirinya sebagai lesbian Hadir juga kemudian buku Indahnya Kawin Sesama Jenis Demokratisasi dan Perlindungan Hak hak Kaum Homoseksual, Fatalisme Kartini Kembang KertasAJ SusmanaTema lesbian atau baca juga homoseksualitas dalam Sastra Indonesia kekinian tentu gampang dijumpai Entah itu dalam novel, cerpen, puisi bahkan juga film Linda Christanty misalnya, memajukan Tina, dalam cerpen Lubang Hitam, dalam antologi cerpen Kuda Terbang Maria Pinto, Kata Kita, 2004 43 56 yang juga menikmati dirinya sebagai lesbian Hadir juga kemudian buku Indahnya Kawin Sesama Jenis Demokratisasi dan Perlindungan Hak hak Kaum Homoseksual, Semarang Lembaga Studi Sosial dan Agama eLSA, 2005 yang diangkat dari kumpulan artikel di Jurnal Justisia Fakultas Syariah IAIN Semarang edisi 25, Th XI, 2004 Situasi ini tentu juga akibat dari perubahan politik pasca jatuhnya kediktatoran Orde Baru yang lebih mengedepankan Hak Asasi Manusia termasuk hak asasi manusia lesbian atau homoseksual bahkan dalam seleksi anggota Komnas HAM kemarin terdapat juga seorang waria, bernama Yulia, yang banyak mendapat pertanyaan soal perkawinan sejenis.Yulia memang tak lolos menjadi anggota Komnas HAM tetapi kehadirannya sebagai waria yang dianggap mewakili kaum LGBT lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender dalam forum seleksi Dewan Perwakilan Rakyat, membuktikan bahwa realitas kehidupan LGBT itu ada dalam ruang hidup negara Republik Indonesia Tak sekadar menjadi pengisi gelak tawa dan hiburan panggung 17 Agustus atau event event lain, tetapi juga mulai merambah wilayah politik Dengan begitu semakin menunjukkan eksistensi dalam percaturan politik untuk merebut, memperkuat dan memperluas hak hak demokratik LGBT dalam berbagai bidang terutama hak demokratik untuk berorganisasi dan mengekspresikan hidup LGBT sewajarnya dan terbuka, sama seperti yang dimiliki kaum heteroseksual Homoseksualitas sendiri dalam tradisi kultural rakyat Indonesia sempat memperoleh hak hidup dengan terbuka Beberapa tradisi muncul secara terbuka seperti Gemblak partner sex sang Warok dan candi Sukuh yang menggambarkan kebebasan seksual Saat ini pun bersamaan dengan ruang demokrasi yang terbuka, beberapa kelompok LGBT pun bermunculan seperti Arus Pelangi Sebelumnya kita mengenal Gay Nusantara dengan tokohnya Dede Utomo Individu individu pun mulai semakin berani menyatakan secara terbuka bila orientasi seksnya lebih nyaman dan tak tersiksa sebagai lesbian atau homoseksual.Bumi Hadiarti, misalnya, berani menyatakan dirinya seorang lesbian sejak kelas 2 SMU Keberaniannya memang mengundang banyak tantangan dan hambatan, baik dari dirinya sendiri, keluarga, maupun masyarakat sekitarnya Sabtu, 18 Maret 2006, Bumi Hadiarti yang masih berstatus mahasiswi HI UNPAD tampil sebagai pembicara dalam kuliah umum yang diselenggarakan oleh salah satu unit kegiatan mahasiswa, Pusat Studi Ilmu Kemasyarakatan PSIK ITB dengan tema Dinamika Lesbian di Indonesia Tujuan kuliah umum itu sendiri adalah memberikan pembelajaran bahwa kaum homoseksual itu ada di tengah tengah masyarakat kita Pembelajaran ini diharapkan para peserta yang datang tidak menjadi homophobic takut berlebihan pada homoseksual kehadiran buku buku bertema lesbian dan homoseksual patutlah dihargai sebagai ekspresi demokratik yang lama ditindas selama Orde Baru berkuasa Ini juga menunjukkan bagaimana ruang demokrasi diolah dengan kreatif berdasarkan tuntutan tuntutan demokratik Dengan demikian juga menyemarakkan perkembangan dunia perbukuan di Indonesia.Di antara buku buku itu salah satunya adalah Novel berjudul Kembang Kertas Ijinkan Aku Menjadi Lesbian karya Eni Martini Kembang Kertas bercerita seorang perempuan keturunan Ningrat Yogyakarta, cantik, berpendidikan tinggi, lulusan Amerika Serikat, namun orientasi seksualnya adalah lesbian Perempuan cantik yang lesbi ini bernama Kartini, dan juga lebih suka dipanggil Kartini saja dari pada panggilan keningratan, setidaknya mengingatkan kita pada tokoh Kartini, putri yang memberontak dari Jepara itu Hanya sayangnya, di tengah gerakan yang meluas untuk demokratisasi di segala bidang, termasuk penghargaan terhadap hak hak demokratik kaum LGBT itu, Eni Martini terasa tak sanggup mengikutinya Justru yang tampil adalah Kartini yang berjiwa naif, kekanak kanakan, mencoba menerima nasib walau menderita dengan alasan karena lahir sebagai putri ningrat yang harus berusaha tunduk pada unggah ungguh adat istiadat dan menjaga kewibawaan Orang Tua.Di Amerika, tempat Kartini bebas hidup sebagai lesbian bersama kekasihnya Juliet, justru hanya menjadi seakan mimpi yang tak akan mungkin dapat diraihnya di sini dan sekaligus dapat diperjuangkan di sini Karenanya Kartini dalam novel Kembang Kertas, Eni Martini justru menjadi perempuan fatalis dan dalam kaca mata terpelajar menjengkelkan childish Ia yang berpendidikan tinggi dan berpengalaman sebagai lesbian di Amerika Serikat, justru tak sanggup mengekspresikan dirinya dengan lebih terbuka atau setidaknya membangunkan gerakannya seperti yang sudah kelihatan tumbuh Militansinya tentu tak seperti Kartini yang bisa mengatakan Habis Gelap Terbitlah Terang seperti juga digambarkan dengan baik dalam film Kartini, sutradara Sjumandjaja tahun 1982 atau sungguh menolak ornament kebangsawanannya Panggil Aku Kartini Saja seperti yang telah banyak diulas Pramoedya Ananta Toer Kartini, Eni Martini, justru kabur dari kondisi obyektif yang membelenggunya, meninggalkannya tanpa perlawanan dan kembali ke Amerika Serikat yang dirasa lebih terbuka dan bebas menerima orang orang seperti dirinya Keberaniannya hanya ditunjukkan dengan pengakuan yang jujur bahwa dirinya sebagai lesbian yang tak suka tiyang jaler lelaki di hadapan Orang tuanya Dan setidaknya juga pembelaan terhadap Nadia, teman sekerjanya, yang dulunya sering mendapat penghinaan karena lesbi, berkat pembelaannya yang singkat bahwa Lesbian juga manusia, akhirnya dapat menyadarkan banyak teman kerja untuk menerima Nadia apa adanya Subjudul novel ini sendiri sebenarnya sudah menunjukkan kelemahan posisi Ijinkan Aku Menjadi Lesbian Mengapa harus minta ijin dan siapa yang berhak dan harus mengijinkan Bila pilihan demokratiknya seperti itu. Novel Kembang Kertas tak terlalu sulit untuk dibaca dan dicerna Alurnya sederhana dengan bahasa dan kata kata sederhana sehingga dapat dibaca dengan cepat Kelemahannya yang mencolok adalah pada buruknya pengeditan Masih banyak kata kata yang ditulis dengan huruf yang salah Di samping itu, penggunaan subyek dan predikatnya dalam kalimat kadang mengganggu dan tidak mengenakkan selera membaca Pada alinea pertama, halaman 1, pembaca dapat melihat kalimat yang berantakan tak tersusun dengan baik Misalnya Sudah lama Kartini tidak berbaur dengan keluarga, famili dan teman temannya dalam suasana pesta adat Jawa yang penuh ungah ungguh, tata krama seharusnya Unggah Kalimatnya selanjutnya begitu jelek seperti tak mengenal hukum subyek dan predikat dengan baik Maka saat Si Bu mengadakan pesta kecil kecilan, atau lebih sering disebut selamatan oleh masyarakat Jawa Pesta dalam rangka menyambut kedatangannya dari Boston, serta syukuran atas selesainya studi dia Kartini cukup antusias menyambutnya, karena selain akan bertemu dengan orang orang yang dicintai Ada pesta, pasti ada kue tradisional aneka ragam Serabi, nogosari, cenil, lemper, klepon, dan kue kue jajan pasar lainnya Melihat jejak pengarang buku ini, seharusnya kesalahan kesalahan editing huruf dan kalimat tak perlu terjadi Eni Martini, lahir di Jakarta tahun 1977, novel novel sebelumnya yang telah diterbitkan antara lain Sehelai Daun Kapuk Randu 2003 , Relasi Kata Tanpa Rupa 2005 , Miss Diena The Series 2006 dan Benang Tiga Perempuan 2007 Di atas kelemahan tata bahasa dan salah salah huruf, Novel ini setidaknya memberikan fakta adanya kehidupan lesbian yang masih tertindas secara, sosial, kultural dan politik Karenanya buku ini juga layak untuk diketahui dan dibaca sebagai sikap moral sehingga bisa menemukan jalan keluar yang , meminjam kata kata seruan perlawanan Nyai Ontosoroh, Pramoedya Ananta Toer, Sebaik baiknya, sehormat hormatnya Jumat, 12 September 2008 19 33 know