Dunia Dari Keping Ingatan

Dunia Dari Keping Ingatan[KINDLE] ❁ Dunia Dari Keping Ingatan By F. Aziz Manna – Oaklandjobs.co.uk kau robek sejarah kampung ini seperti memutus lelayangan dari tali tapi ke manakah kami pergi di manakah kami kembali ke arah mereka kami tak sampai ke arah kalian kami terabai F Aziz Manna adalah pen kau robek sejarah kampung ini seperti memutus lelayangan dari tali tapi ke manakah kami pergi di manakah kami kembali ke arah mereka kami tak sampai ke arah kalian kami terabai F Aziz Manna adalah penyair berbakat yang pernah memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa Puisi puisi dalam Dunia Dari Keping Ingatan menghadirkan kembali wajah sebuah kota yang terhapus dari peta karena kecerobohan dan keegoisan sekelompok manusia Kampung menghilang kubur leluhur tenggelam rumah berlayar di atas lumpur Para penghuninya Dunia Dari Kindle - hanya abadi dalam beritaBerlatar belakang peristiwa lumpur Sidoarjo Dunia Dari Keping Ingatan menggiring kita menikmati sebuah perjalanan menyusuri kenangan tanpa monumen mengecap manisnya cerita masa lalu yang tak berjejak sekaligus menyesap kegetiran yang tak kunjung pergi. Semenjak Playon entah mengapa saya menyukai gaya berpuisi F Aziz Manna Dia tidak terjebak untuk bermain main dengan gaya ringkas dan guyon puisi Manna adalah puisi yang liris entahlah menamakannya tapi punya kekuatan magis Kalau di Playon kita akan dibawa ke zona penuh romantisme dan kenangan masa kecil dan kampung halaman di buku ini penyair membawa nuansa yang lebih haru tragedi lumpur lapindo SadiiissssKalau mengutip kata Bambang Sugiharto bahwa bahasa adalah bor Maka Manna telah menggali duka dan lara warga sekitar lapindo dalam puisinya Sejak halaman pertama nuansanya emang sedih banget Kalau saya usul meski mungkin penulisnya kurang sepakat dibawa ke UWRF saja tahun depan buku ini Karena temanya adalah tema kemanusiaan yang sangat disukai di panel panel UWRF Buku dengan jumlah halaman sebanyak 129 berhasil membawa saya ke masa 13 tahun lalu saat berita Lumpur Lapindo samar samar saya dengarkan Kala itu mungkin saya hanya melihat sebentar lalu kembali sibuk dengan ihwal duniawi lain Yang saya tau hanya kejadian tersebut disebabkan oleh salah satu perusahaan besar yang terafiliasi dengan grup yang cukup tersohor dan gadang di Indonesia Percepat ke September 2019 saya menemukan buku ini di tumpukan buku bazar yang diadakan di JCC Senayan Ilustrasi sampulnya cukup menarik siluet manusia yang di dalamnya terdapat bencana banjir Ternyata peristiwa banjir yang ada di ilustrasi merupakan gambaran visual dari peristiwa Lumpur Sidoarjo Sekitar 73 puisi dan sajak yang ditulis F Aziz Manna ini ternyata berhasil memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa 2016 dalam kategori puisi Puisi puisinya terasa lebih pandai menggambarkan gelapnya peristiwa Lumpur Lapindo dibandingkan segala narasi berita di tv Memang sudah tugas puisi untuk membuat pembaca menjadi emosional dan terikat Puisi puisi F Aziz Manna melakukannya dengan sangat baik Di samping mengikat secara emosional puisi puisi dalam buku ini juga menggelitik bagian lobus temporal otak saya karena banyaknya kata kata yang diproduksi oleh F Aziz Manna untuk memperkaya puisinya seperti kata 'syahdan' 'melangut' 'zonder' 'nyunyut' dan masih banyak lagi Beberapa kata bahkan perlu saya garisbawahi dan tulis artinya di buku Dalam sajaknya juga banyak sekali majas majas yang bertebaran mulai dari metafora hingga asosiasi Kami tak pernah merasa berurusan dengan dunia sebab kami bersama lapar dan tak ada yang bisa kami makan tak ada yang bisa mengenyangkan Terik matahari kami simpan dalam perut sepanjang hari ketika beduk menyatu dengan degup jantung Matahari sepenuhnya tenggelam tertelan tanggul menghitam Setiap hari kami berangkat kerja pepagi sekali setiap hari lalu memelototi lumpur kata lumpur mulut lumpur peristiwa setiap hari Setelah membaca seluruh sajak dan puisi ini saya paham bahwa berapapun besarnya materi yang diberikan oleh si raksasa kapital kepada para warga yang terkena peristiwa menyedihkan itu tidak akan mampu menggantikan rasa pedih yang dirasa Lumpur telah melumat kenangan mereka Menenggelamkan kebendaan mereka Menambahkan rasa getir dan pahit dalam ucapan mereka Mencerabut kebahagiaan Mencerabut kemanusiaan Saya tidak mengenal Manna sama sekali Sekalinya kenal hanya karena embel embel pemenang Kategori Puisi KSK 2016 Ini mengejutkan saya memang akhir akhir tahun belakangan sangat sulit untuk menyelesaikan buku sampai benar benar tuntas Ini kesalahan paling saya sesali di 2017; tidak menyelesaikan satu buku pun secara serius FatalTapi setelah kegiatan berentet itu selesai dan skripsweet sudah berangsur angsur lebih sederhana Saya memutuskan untuk membaca buku ini di awal tahun 2018 Voila selesai dalam 2 hari saya pikir tidak pernah membaca buku akan menurunkan kecepatan daya serap dan keseriusan dalam membaca Dan benar saya kehilangan salah satu diantara ketiga hal tersebut yakni; speed Saya lebih lamban dalam membaca Namun untuk daya serap dan keseriusan saya pikir saya masih berada pada level yang sama ketika sebelum saya vakum dari dunia perbukuanManna seperti apa yang dibilang Teguh Affandi bahwa ia tidak seperti penyair kebanyakan terutama jaman sekarang yang kerapkali terjebak pada puisi puisi ringkas Manna menyajikan bahwa pemenang KSK tidak semata mata mempunyai ketahanan dalam menulis puisi mengarang indah dan melihat dari sudut pandang berbeda Jauh di atas segalanya Dunia dari Keping Ingatan adalah kenangan kemanusiaan Bahwa banyak yang terjadi pada bumi kita tapi sering kita alpa terhadapnya Manna membuka itu Manna memperpanjang ingatan dengan menulis kenangan itu sendiriSetiap baitnya adalah kesedihanDan setiap baitnya pula adalah kesadaranDalam buku ini kita kembali pada apa yang dibilang Soekarno Jangan sekali kali melupakan sejarahPembuka yang baik terima kasih Manna Saya sudah terpikat dengan karya karya F Aziz Manna sejak Playon Saya senang dengan gaya Mas Aziz berpuisi Lewat buku ini pun demikian saya tetap terpikat oleh puisi puisinya Lebih dari itu saya kagum karena Mas Aziz bisa mengangkat isu Lapindo yang mulai usang dan dihiraukan sehingga bisa kembali memiliki suara sekaligus pengingat bahwa keserakahan dan kelalaian manusia bisa dan sangat bisa menuai bencana