Lengking Burung Kasuari

Lengking Burung Kasuari❰PDF / Epub❯ ☆ Lengking Burung Kasuari Author Nunuk Y. Kusmiana – Oaklandjobs.co.uk Tukang potong kep sedang mencari kepala anak anak Aku bergeming Tak merasa perlu gemetar seperti ketika pertama kali me ngetahui kep itu artinya apa Ah, yang macam beginian cuma cerita omong kosong sa Tukang potong kep sedang mencari kepala anak anak Aku bergeming Tak merasa perlu gemetar seperti ketika pertama kali me ngetahui kep itu artinya apa Ah, yang macam beginian cuma cerita omong Lengking Burung PDF or kosong saja, aku menyahut begitu dengan nada tak acuh Sendy jadi tersinggung Ia mendelik, mengangkat kepalanya, dan memelototiku, Baik, kalau tidak percaya Coba saja kalau tidak percaya Lihat akibatnya nanti Jembatannya sudah jadi Tidak perlu lagi kepala anak anak, aku menantangnya Perlu kepala anak anak, Sendy ngotot Tetap perlu Mau ditanam di mana lagi Di bawah jembatan Memang mau di mana lagi Kenapa kamu tidak takut sama dia tanyaku Kamu anak anak juga, sama seperti aku Tidak sama Tukang potong kep suka kepala anak anak berambut lurus Dibuka dengan tukang potong kep , kisah tentang tentara Jawa dan keluarganya yang tinggal di Papua tahunmengalir dari sudut pandang anak berusia tujuh tahun Asih, tokoh utama dalam cerita ini, dengan berani sekaligus lugu, memotret kehidupan Jayapura, Papua di awal masa integrasi Dibalut kisah masa kecil yang menyenangkan, permasalahan domestik hingga politik ditampilkan oleh penulis tanpa mengurangi rasa manis kehidupan anak anak hingga akhir cerita. Akhir akhir ini saya banyak membaca novel bertema bertokoh utama anak anak sebut saja Genduk, Di Tanah Lada, Semua Ikan di Langit jika boleh dibilang demikian , dan Lengking Burung Kasuari ini Beda novel ini dari ketiga judul yang saya sebutkan adalah konfliknya Jika Genduk, Di Tanah Lada, dan Semua Ikan di Langit memiliki konflik serius, lain halnya dengan Lengking Burung Kasuari Bisa dibilang novel ini minim konflik Rasanya keseluruhan cerita datar saja Tapi setelah saya pikir pikir, bu Akhir akhir ini saya banyak membaca novel bertema bertokoh utama anak anak sebut saja Genduk, Di Tanah Lada, Semua Ikan di Langit jika boleh dibilang demikian , dan Lengking Burung Kasuari ini Beda novel ini dari ketiga judul yang saya sebutkan adalah konfliknya Jika Genduk, Di Tanah Lada, dan Semua Ikan di Langit memiliki konflik serius, lain halnya dengan Lengking Burung Kasuari Bisa dibilang novel ini minim konflik Rasanya keseluruhan cerita datar saja Tapi setelah saya pikir pikir, bukankah rasa takut dimarahi tetangga, dikejar kejar binatang, teror cerita tukang potong kepala merupakan konflik tersendiri bagi anak kecil Terlepas dari itu, saya sangat menikmati sekali alur cerita yang dibangun Nunuk dan setting waktu yang dipilih Saya pernah merasakan hidup di jaman minim teknologi, dimana TV masih langka, dan gadget hanya ada dalam buku fiksi ilmiah Bermain di pekarangan rumah di siang hari adalah kegiatan yang sangat menyenangkan dan ditunggu tunggu sepulang sekolah Di novel ini berulang kali digambarkan Asih, Tutik, Watik, Sendy bermain main riang di siang hari hanya dengan menumbuk numbuk dedaunan Saya kecil pun merasa demikian Tidak pernah absen di pekarangan tetangga seusai sekolah.Terlebih lagi, sosok Bapak yang digambarkan novel ini adalah sosok bapak yang sabar, penyayang, melindungi, dan pekerja keras Sembilan puluh persen menggambarkan sosok bapak saya minus profesi tentaranya hehe Berkali kali selama membaca saya berteriak That s my dad.Teror cerita pemotong kepala anak anak pun pernah saya dengar ketika kecil Bedanya di tempat saya, kepala anak kecil digunakan untuk persembahan mesin pabrik gula Duh, ngerinya minta ampun kala itu.Dari pengalaman pengalaman masa kecil yang kurang lebih sama itulah, saya berpikir dan saya berniat dari awal untuk membaca novel ini dengan kepala anak anak Alhasil, saya suka cerita ini Saya berterima kasih untuk Ninuk Terima kasih telah membangkitkan memori memori indah masa kecil saya.Well, kenapa bintang tiga Secara obyektif, novel ini main aman saja, tanpa adanya konflik besar dari kacamata orang dewasa Saya hanya menikmati membaca dengan mengingat kembali jaman kanak kanak bila anda membaca buku ini dan berkekspektasi akan sedahsyat tanah tabu, atau minimal setara dengan isinga, speerti halnya saya, maka anda akan siap siap kecewa sebagaimana saya saya memang sedari awal hanya ingin menikmati cerita perihal asih dan dunia papua yang dibangun penulis apalagi sedari awal penulis sudah membimbing perihal tukang potong kep yang menghantui dunia anak anak asih itu hal yang jamak di jawa bila ingin membangun jembatan konon harus digati dengan kepala manusia tapi di bila anda membaca buku ini dan berkekspektasi akan sedahsyat tanah tabu, atau minimal setara dengan isinga, speerti halnya saya, maka anda akan siap siap kecewa sebagaimana saya saya memang sedari awal hanya ingin menikmati cerita perihal asih dan dunia papua yang dibangun penulis apalagi sedari awal penulis sudah membimbing perihal tukang potong kep yang menghantui dunia anak anak asih itu hal yang jamak di jawa bila ingin membangun jembatan konon harus digati dengan kepala manusia tapi di tengah tengah, cerita justru bergeser ke persoalan komplek dan rumah keluarga asih dan kita tidak diberi jawaban atau misteri lebih lanjut soal tukang potong kep ini narasinya mengalir sih, sedari kalimat pertama saya sudah menduga akan ada aroma femina manis manis gimana gitu dan kalau dugaan saya benar novel ini adalah narasi panjang atas kenangan penulis tentang masa kecilnya yang dihabiskan di tanah papua 2,5 bimbang, akhirnya lebih ke 2 bintang.enggak nemu apa yang ditemukan juri lomba DKJ dan juga juri Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 cerita anak anak berlatar sejarah awal bergabungnya Irian Jaya ke NKRI banyakan tentang dolanan pasar pasaran dah, itu saja bahan siaran ini adalah buku ke 4 yang saya baca dari daftar pemenang novel sayembara DKJ tahun 2016berkisah tentang seorang anak perempuan yang masih sekolah di SD dan tinggal di Jayapura bersama orang tua nya, dimana bapaknya menjadi tentara yang harus bertugas ke berbagai tempatanak tersebut bernama Asih, dan dia mempunyai seorang teman bermain di sekitar rumahnya, bernama Sendytadinya saya sempat merasa bahwa buku ini akan seru, apalagi ada istilah tukang potong kep alias orang yang suka potong atau me ini adalah buku ke 4 yang saya baca dari daftar pemenang novel sayembara DKJ tahun 2016berkisah tentang seorang anak perempuan yang masih sekolah di SD dan tinggal di Jayapura bersama orang tua nya, dimana bapaknya menjadi tentara yang harus bertugas ke berbagai tempatanak tersebut bernama Asih, dan dia mempunyai seorang teman bermain di sekitar rumahnya, bernama Sendytadinya saya sempat merasa bahwa buku ini akan seru, apalagi ada istilah tukang potong kep alias orang yang suka potong atau memenggal kepala yang diyakini bisa memperkuat fondasi jembatan sepertinya saya pernah nemu hal seperti ini di cerpen, entah siapa penulisnya , tetapi sepanjang buku ini, istilah tpk ini ga terlalu sering2 amat disebut, seperti sekilas sajaAsih serta adiknya, Tutik menjalani kehidupan seperti layaknya anak2 SD pada umumnya, yaitu bermain, bersekolah, dan saya merasa bahwa Asih di sini cukup lugu, polos, dan tidak sepintar adiknya yang meskipun masih bersekolah di TK, namun ternyata Tutik lebih rajin ketimbang Asihkalau dibandingkan dengan 2 novel rasa Papua yang sempet masuk nominasi Kusala, rasanya masih jauh IMO Pemenang unggulan novel DKJ sekaligus pemenang Kusala Sastra 2017 serasa novel Gaiman yg menang Hugo sekaligus Nebula Reputasi yg gak main2 yg telah dikantongi oleh novel ini membuatku tertarik untuk membacanya selain jg ilustrasi kovernya yg cantik meski sinopsisnya tdk terlalu memanggil2ku Alhasil, stlh membaca, malah berasa spt novel Newbery medal Kisah sebuah keluarga tentara yg ditugaskan di Irian di era 1970 an, dituturkan dari sudut pandang lugu Asih, seorang bocah berusia 7 tahun Pemenang unggulan novel DKJ sekaligus pemenang Kusala Sastra 2017 serasa novel Gaiman yg menang Hugo sekaligus Nebula Reputasi yg gak main2 yg telah dikantongi oleh novel ini membuatku tertarik untuk membacanya selain jg ilustrasi kovernya yg cantik meski sinopsisnya tdk terlalu memanggil2ku Alhasil, stlh membaca, malah berasa spt novel Newbery medal Kisah sebuah keluarga tentara yg ditugaskan di Irian di era 1970 an, dituturkan dari sudut pandang lugu Asih, seorang bocah berusia 7 tahun Rupa2 kjdn dialami Asih, mulai dr pertemanannya dengan anak lokal, kehidupannya sehari2 sbg anak kolong, kesibukan orang tuanya yg membuat ia dan adiknya kesepian, hingga perselingkuhan tetangga rumahnya yg judes gak kepalang.Bagus sih, semuanya tertangkap dengan wajar dan mengalir Shock culture digambarkan dengan halus bersahaja, bahkan untuk topik2 sensitif seperti perbedaan agama, perbedaan prinsip dalam kehidupan bertani vs mengambil dr hutan ataupun politis DOM Tapiiii aku kurang begitu suka alur tanpa konflik utama seperti ini Benang merah cerita di sinopsis ttg tk potong kep, hanya jadi tempelan di awal dan akhir Tidak ada unsur signifikannya Boleh jd ini adalah metafora kecemburuan Sendy thd Asih yg njawa rambut lurus, kulit cerah yg paralel dengan ide moderintas Irian Bahkan burung kasuari yg jd judul novel ini pun pada gilirannya mesti mengalah pada 10 anak ayam peliharaan Asih Books 111 2017 3,1 dari 5 bintang Saya terkesan dengan buku ini karena penulis dapat menghidupkan suasana Papua dengan saksama seolah olah saya berada di Papua Mungkin karena penulis pernah sebelumnya tinggal di Papua sehingga bisa menjadi modal setting untuk cerita ini Buku ini menceritakan kisah kehidupan Asih dan Adiknya Tutik yang bersama sama orangtuanya tinggal di Papua Ayahnya bekerja sebagai seorang tentara dan ibunya berdagang untuk menyanggupi nasib keluarga mereka Itu in Books 111 2017 3,1 dari 5 bintang Saya terkesan dengan buku ini karena penulis dapat menghidupkan suasana Papua dengan saksama seolah olah saya berada di Papua Mungkin karena penulis pernah sebelumnya tinggal di Papua sehingga bisa menjadi modal setting untuk cerita ini Buku ini menceritakan kisah kehidupan Asih dan Adiknya Tutik yang bersama sama orangtuanya tinggal di Papua Ayahnya bekerja sebagai seorang tentara dan ibunya berdagang untuk menyanggupi nasib keluarga mereka Itu inti yang saya tangkap dari cerita ini Saya sempat mengira akankah buku ini akan seperti Tanah Tabu karya Anindita S Thayf tetapi jujur saya lebih menyukai Tanah tabu ketimbang cerita yang satu ini meski sama sama masuk didalam DKJ Terimakasih Scoop Premium Nunuk Y Kusmiana tidak mengajak pembaca untuk berlenggak lenggok dalam konflik besar atau sebuah petualangan pikiran rumit yang menguras tenaga Ia hadir dengan kisah tentang seorang gadis yang masih menatap dunia dengan kepolosan Asih, sang tokoh utama, menciptakan kesederhanaan, kehangatan, dan nuansa anak anak tanpa mengabaikan kejadian kejadian yang dialami orang dewasa Menjadi pendatang di tanah Papua, Asih dan keluarganya mesti menghadapi berbagai penyesuaian Mulai kondisi rumah yang se Nunuk Y Kusmiana tidak mengajak pembaca untuk berlenggak lenggok dalam konflik besar atau sebuah petualangan pikiran rumit yang menguras tenaga Ia hadir dengan kisah tentang seorang gadis yang masih menatap dunia dengan kepolosan Asih, sang tokoh utama, menciptakan kesederhanaan, kehangatan, dan nuansa anak anak tanpa mengabaikan kejadian kejadian yang dialami orang dewasa Menjadi pendatang di tanah Papua, Asih dan keluarganya mesti menghadapi berbagai penyesuaian Mulai kondisi rumah yang sempit, gaji sang Ayah yang minim, hingga sang Ibu yang mesti menyambi untuk membuka usaha demi menutup pengeluaran keluarga Dalam perjalanan kisahnya, masalah masalah domestik Asih menjadi daya tarik Berhadapan dengan Tante Tamb, tetangga yang semaunya sendiri atau yang mendalam seperti kerinduan Asih terhadap Ibunya yang jarang berada di rumah Baik konflik besar maupun sepele tetap disampaikan dengan kesederhanaan ala anak anak, ala Asih Meski terkesan kurang dinamis, namun kisah ini kuat dalam gaya penyampaian, dan menitikberatkan pada kesederhanaan, meski tersimpan ruang pesan yang pembaca mesti isi sendiri Melalui mata Kasuari, atau ketakutan akan Tukang kep Saya menaruh ekspektasi tinggi sebelum membaca buku ini, mengingat penghargaan yang sudah diraih dalam Sayembara DKJ 2016 dan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 Namun, ternyata cerita ini tidak mengandung klimaks Di samping itu, penggunaan burung kasuari sebagai judul agaknya kurang pas mengingat hewan tersebut sepanjang buku ini tidak memegang peran yang berarti berarti amat, seperti ingin menunjukkan saja bahwa buku ini berkaitan dengan tanah Papua Tukang potong kep yang disinggung sejak hala Saya menaruh ekspektasi tinggi sebelum membaca buku ini, mengingat penghargaan yang sudah diraih dalam Sayembara DKJ 2016 dan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 Namun, ternyata cerita ini tidak mengandung klimaks Di samping itu, penggunaan burung kasuari sebagai judul agaknya kurang pas mengingat hewan tersebut sepanjang buku ini tidak memegang peran yang berarti berarti amat, seperti ingin menunjukkan saja bahwa buku ini berkaitan dengan tanah Papua Tukang potong kep yang disinggung sejak halaman awal buku juga seperti dibuat untuk meninggikan ekspektasi pembaca akan konflik menarik yang bakal terjadi di tengah tengah buku Sayang itu tidak terjadi.Hal yang patut dipuji adalah penuturan yang dilakukan dengan cukup baik, khas keluguan seorang anak rantau, mengingat cerita disajikan dari sudut pandang anak kelas 1 SD Dengan kepolosan yang sangat cerdas digambarkan ka Nunuk Y Kusmiana pada sosok Asih yang membuat sosok Asih seakan hidup dan benar terjadinya.Keluarga tentara yang berkeluargakan keluarga kecil Nan manis yang di sekelilingi oleh tetangga tetangga yang beranegaragam Kisah mereka berawal dari situ.Kepolosan anak usia 6 Tahun yang kadang bikin jantung degdegan dengan kepolosannya tapi kadang bikin tertawa dengan ketidaktahuannya.Kisah adat jawa yang harus berbaur dengan keras nya tanah Jayapura ya Dengan kepolosan yang sangat cerdas digambarkan ka Nunuk Y Kusmiana pada sosok Asih yang membuat sosok Asih seakan hidup dan benar terjadinya.Keluarga tentara yang berkeluargakan keluarga kecil Nan manis yang di sekelilingi oleh tetangga tetangga yang beranegaragam Kisah mereka berawal dari situ.Kepolosan anak usia 6 Tahun yang kadang bikin jantung degdegan dengan kepolosannya tapi kadang bikin tertawa dengan ketidaktahuannya.Kisah adat jawa yang harus berbaur dengan keras nya tanah Jayapura yang menggambarkan berapa Indonesia ini luas dengan bhineka tinggal ika nya yang digambarkan oleh tempat tinggal Dan lingkungan mereka.Over all cerita nya cukup asik dengan kepolosan seorang anak kecil yang benar benar polos Bacaan lainnya di tahun ini yang membuatku bahagia Paling suka sama tokoh Bapak yang mengingatkanku pada Atticus Finch Tokoh nomor dua yang kusuka Tutik, adiknya Asih, penutur cerita ini Tokoh nomor tiganya burung kasuari piaraan Sendy, haha.Tokoh tokoh menyebalkan 1 Tante Tamb amit amit jabang bayi 2 ibunya Asih3 AsihKenapa Asih Yah, memang sih dia lugu dan polos, dan karena keluguan serta kepolosannya itu bikin jeri Tapi tentu saja, setelah semua hal yang dia alami, dia akan tumbuh de Bacaan lainnya di tahun ini yang membuatku bahagia Paling suka sama tokoh Bapak yang mengingatkanku pada Atticus Finch Tokoh nomor dua yang kusuka Tutik, adiknya Asih, penutur cerita ini Tokoh nomor tiganya burung kasuari piaraan Sendy, haha.Tokoh tokoh menyebalkan 1 Tante Tamb amit amit jabang bayi 2 ibunya Asih3 AsihKenapa Asih Yah, memang sih dia lugu dan polos, dan karena keluguan serta kepolosannya itu bikin jeri Tapi tentu saja, setelah semua hal yang dia alami, dia akan tumbuh dewasa Tidak akan sepintar adiknya, tapi juga tidak akan se ngeyel ibunya